MAKALAH
PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DAKWAH DLAM MASYARAKAT ISLAM
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Pendidikan Masyarakat Islam
Dosen Pengampu:

Disusun Oleh:
MA’RUF
MAHUDI : 1398811
AGUS
KURNIAWAN : 1397541
IKHWANUL AMRI :
1398621
ANI LESTARI : 1397791
ALFITA NUR KHANNA :
1397711
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI (STAIN)
JURAI SIWO METRO
TAHUN 2014/2015BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Blakang
Latar Belakang MasalahDakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan
atau proses, dalam rangka mencapai sesuatu tujuan tertentu. Tujuan ini
dmaksudkan memberi arah atau pedoman bagi gerak langkah bagi kegiatan dakwah.
Sebab tanpa tujuan yang jelas seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia (tiada
artinya). Tujuan dakwah meruapkan salah satu unsur dakwah. Dimana antara unsur
dakwah antara yang satu dengan yang lainnya saling membantu, mempengaruhi,
berhubungan (sama pentingya).Unsur lain selalu ada pada tujuan dakwah dan
materi dakwah. Karena dakwah merupakan pesan yang disampaikan oleh seoang.
Dakwah merupakan suatu hal
yang penting dalam pergerakan islam di dunia. Setiap muslim wajib untuk
berdakwah, menyeru kepada kebajikan dan mencegah kepada kemunkaran. Sebagaimana
firman Allah SWT :“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang
menyeru kepada kebajikan,menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang
munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron:104)
Menurut
Hamka (1982), dakwah bukan hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi dapat
dilakukan dengan, perbuatan, tingkah laku, ramah-tamah, dan kasih sayang.
Dakwah dapat dilakukan di mana saja, seperti di masjid, rumah, lingkungan
masyarakat, kampus, dan lain-lain
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Model dalam
pengertian yag longgar merupakan pola dakwah yang tepat untuk dilahirkan dalam
menyampaikan ajaran Islam, bagi pelaksanaan dakwah harus diartikan secara
secara tepat.
Bagi pemimpin
formal tentunya berada dari pemimpin informal dalam menyampaikan materi dakwah,
hal ini disebabkan karena mad’u, tempat dan kesepempatanya berbeda. Dari segi
mad’u pemimpin formal menghadapi tipe mad’u yang seragam (homogeny), sedangkan
pemimpin formal mad’unya sangat luas. Dari sudut tempat, kepemimpinan formal di
batasi oleh inti kerjanya masing-masing. Sedangkan pemimpin informal tidak ada
batas lokasinya. Dari aspek kesepakatan pemimpin formal sangat terbatas waku
untuk secara khusus melaksanakan dakwah, sedangkan pemimpin formal, leluasa
untuk berdakwahsecara terbuka.
B.
Model Dakwah Pimpinan Formal
Pebicaraan tentang model,
erat kaitanya dengan setrategi yang diterapkan dalam berdakwah. Searah
dengan bentuk kepeimpinan formal yang bersikap birokrasi, scructual dan
fungsional.
Birokrasi artinya dalam
kepemimpinan itu bekerja melalui adanya unit kerja dalam waktu biro (bagian).
Scructual artinya memiliki kepengurusan secara hirarkis dan fungsional, berarti
setiap person dari struktur tu berfungsi sebagai nama tugasnya. Dengan demikian
pemimpin formal bersifat birokrati, scructural dan fungsional dalam
kepemimpinanya. Artinya dakwah dalam dimensi kepemimpinanya yang bersifat
birokrasi, scructural dan fungsional (M. BAHRI GHAZALI, 1997:73)
Dengan cirri kepemimpinan formal yang sedemikian rupa dapat
dilaksanakan dakwah dengan menggunakan setrategi dakwah bil-hal. Wujud dakwah
bil-hal bias bersifat berhubungan antara atasan dan bawahan dengan
masing-masing menyadari fungsinya, model-model tersebut yaitu:
1.
Perintah Atasan Bawahan
Sifat
perintahnya adalah untuk menumbuhkan kepercayaan diri bukan suatu intruksi.
Sikap / model dakwah bagi pemimpin yang demikian nampaknya akan lebih berhasil
apabila pemimpin mampu menumbuhkan potensi kerja dan tidak mudah putus asa.
Dengan demikian perintah akan secara ikhlas dilaksanakan.
2.
Keteladanan (Uswatun Khasanah)
model
dakwah keteladanan dilakukan melalui perbuatan seorang pemimpin formal yang
sifatnya memberikan contoh teladan kepada bawahan agar terjadi peningkatan
amaliah dan perbuatan sikap menuju tindakan yang positif.
Dakwah
modal keteladanan memberikan dampak positif bagi pemimpin, dimana pemimpin
dijadikan sosok figure yang ideal bagi lingkungan. Dakwah yang demikian lebih
mampu menciptakan lingkun ganya mencapai tujuan.
3.
Amar Ma”ruf Nahi Munkar
Seorang
pemimpin yang tanggung jawab atau kepemimpinanya, akan senantiasa memperhatikan
bawahanya dengan mengutamakan kebaikan (ma’ruf) dari yang tercela (munkar).
Tindakan ini dapat dikategorikan sebagai upaya amar ma’ruf nahi munkar.
Dakwah
model amar ma’ruf nahi munkar, cenderung melahirkan sosok anggotanya menjadi
anggotanya menjadi anggota yang terpuji. Aplikasinya model ini secara langsung
seorang pemimpin dalam menyiarkan dakwah berhadapan dengan mad’unya.
Pelaksanaan dengan jalamn memerintah ajaran agama untuk dilaksanakan dan
melarang anggota untuk berbuat munkar.
C.
Model Dakwah Pinpinan Informal
Pimpinan
informal diistilahkan dengan pimpinan yang terlahir dengan sendirinya karena
tidak terbentuk atas dasar pengalaman kependidikan kepemimpinan, melainkan
berkembang atas dasar kemampuan bawaan. Pemimpin informal terbentuk secara
alami karena kemampuan bawaan yang diberikan Allah SWT. Pemimpin yang demikian
ini dinamakan pemimpin karismatik. Karisma yang dimiliki adalah pemberian dari
Allah sebagai hikmah dan terefleksi dalam segala gerak gerik. Memperhatikan
karakteristik kepemimpinan informal seperti yang diutarakan di atas, maka dapat
diterapkan strategi dakwah yang tepat adalah dakwah bil-lisan dan dakwah
bilhal. Dakwah bil-lisan yang dimaksud sebagai kegiatan dakwah yang dilakukan
dirumah ibadah lembaga agama seperti majelis taklim, yasinan, remaja masjid,
dll.
sedangkan
strategi bilhal merupakan aktifitas dakwah terpadu dengan kegiatan
kemasyarakatan. Tujuannya adalah memodifikasi dakwah yang selama ini
berkembang, dan juga melakukan perubahan pola kehidupan melalui kegiatan
keagamaan juga menampilkan kegiatan kemasyarakat sebagai kegiatan agama. Oleh
karena itu model dakwah yang dapat dikembangkan adalah;
1.
Keteladanan
model dakwah merupakan bentuk klasik dari kegiatan dakwah sebab
Nabi Muhammad SAW, selalu bertindak sebagai teladan telah mampu melakukan
perbuaan sikap dan sekaligus menginternalisasikan nilai kehidupan islam bagi
masyarakat.
2.
Nasehat
model dakwah ini relefan dengan dengan kedudukan pemimpin informasi
sebagai pokok-pokok agama atau masyarakat. Nasehat seorang pemuka agama lebih
cepat diterima oleh masyarakat dan menjadi pedoman dalam bertindak atau
berhubungan dengan sesama anggota masyrakat.
3.
Kepeloporan
makna dari kepeloporan terletak pada sikap pemimpin ang menonjol
didalam kegiatan kelompoknya. Pemimpin pada dasarnya adalah seorang pelopor
dari suatu aktifitas. Dakwah dengan
modal kepeloporan akan lebih mampu dengan jiwa penggerakan mad’unnya.
4.
Tabligh
dakwah mdel tabligh merupakan dakwah yang paling konfensional,
karena model tabligh sudah dimulai sejak dahulu dan tetap relefan dengan
situasi kondisinya.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dakwah merupakan pilar penting dalam kemajuan agama islam di dunia.
Pengembagan kepemimpinan dakwah dalam masyarakat islam itu mempunyai
model-model dakwah dalam masyarakat islam, diantaranya yaitu: Model dakwah
kepemimpinan formal adalah dimana kepemimpinan itu bekerja melalui adanya unit
kerja dalam waktu biro (bagian). Scructual artinya memiliki kepengurusan secara
hirarkis dan fungsional, berarti setiap person dari struktur tu berfungsi
sebagai nama tugasnya. Dengan demikian pemimpin formal bersifat birokrati,
scructural dan fungsional dalam kepemimpinanya. Artinya dakwah dalam dimensi
kepemimpinanya yang bersifat birokrasi, scructural dan fungsional. Sedangkan
model dakwah kepemimpinan informal, berarti dakwah yang dilakukan didalam dalam
arti juga Pimpinan informal diistilahkan dengan pimpinan yang terlahir dengan
sendirinya karena tidak terbentuk atas dasar pengalaman kependidikan
kepemimpinan, melainkan berkembang atas dasar kemampuan bawaan. Pemimpin
informal terbentuk secara alami karena kemampuan bawaan
DAFTAR PUSTAKA
Helman Elhany. Pengembangan
Masyarakat Islam. Lampung
Bahri Ghazali. 1997. Dakwah
Komunikatif. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada
Din Syamsudin. 2000. Etika Agama
dalam Membangun Masyarkat Madani. Jakarta. Gema Insani Pres
Moh. Ali Aziz. 2004. Ilmu
Dakwah,Kencana. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar