Sabtu, 14 Februari 2015

pengembangan kepemimpinan dakwah dalam masyarakat islam

MAKALAH
PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN DAKWAH DLAM MASYARAKAT ISLAM
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Pendidikan Masyarakat Islam
Dosen Pengampu:
Disusun Oleh:
MA’RUF MAHUDI                   : 1398811
AGUS KURNIAWAN               : 1397541
IKHWANUL AMRI                  : 1398621
ANI LESTARI                            : 1397791
ALFITA NUR KHANNA         : 1397711       


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGRI (STAIN)
JURAI SIWO METRO
TAHUN 2014/2015BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Blakang

Latar Belakang MasalahDakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses, dalam rangka mencapai sesuatu tujuan tertentu. Tujuan ini dmaksudkan memberi arah atau pedoman bagi gerak langkah bagi kegiatan dakwah. Sebab tanpa tujuan yang jelas seluruh aktivitas dakwah akan sia-sia (tiada artinya). Tujuan dakwah meruapkan salah satu unsur dakwah. Dimana antara unsur dakwah antara yang satu dengan yang lainnya saling membantu, mempengaruhi, berhubungan (sama pentingya).Unsur lain selalu ada pada tujuan dakwah dan materi dakwah. Karena dakwah merupakan pesan yang disampaikan oleh seoang.
 Dakwah merupakan suatu hal yang penting dalam pergerakan islam di dunia. Setiap muslim wajib untuk berdakwah, menyeru kepada kebajikan dan mencegah kepada kemunkaran. Sebagaimana firman Allah SWT :“Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan,menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imron:104)
Menurut Hamka (1982), dakwah bukan hanya dilakukan dengan ucapan, tetapi dapat dilakukan dengan, perbuatan, tingkah laku, ramah-tamah, dan kasih sayang. Dakwah dapat dilakukan di mana saja, seperti di masjid, rumah, lingkungan masyarakat, kampus, dan lain-lain



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Model dalam pengertian yag longgar merupakan pola dakwah yang tepat untuk dilahirkan dalam menyampaikan ajaran Islam, bagi pelaksanaan dakwah harus diartikan secara secara tepat.
Bagi pemimpin formal tentunya berada dari pemimpin informal dalam menyampaikan materi dakwah, hal ini disebabkan karena mad’u, tempat dan kesepempatanya berbeda. Dari segi mad’u pemimpin formal menghadapi tipe mad’u yang seragam (homogeny), sedangkan pemimpin formal mad’unya sangat luas. Dari sudut tempat, kepemimpinan formal di batasi oleh inti kerjanya masing-masing. Sedangkan pemimpin informal tidak ada batas lokasinya. Dari aspek kesepakatan pemimpin formal sangat terbatas waku untuk secara khusus melaksanakan dakwah, sedangkan pemimpin formal, leluasa untuk berdakwahsecara terbuka.

B.     Model Dakwah Pimpinan Formal

Pebicaraan tentang model,  erat kaitanya dengan setrategi yang diterapkan dalam berdakwah. Searah dengan bentuk kepeimpinan formal yang bersikap birokrasi, scructual dan fungsional.
Birokrasi  artinya dalam kepemimpinan itu bekerja melalui adanya unit kerja dalam waktu biro (bagian). Scructual artinya memiliki kepengurusan secara hirarkis dan fungsional, berarti setiap person dari struktur tu berfungsi sebagai nama tugasnya. Dengan demikian pemimpin formal bersifat birokrati, scructural dan fungsional dalam kepemimpinanya. Artinya dakwah dalam dimensi kepemimpinanya yang bersifat birokrasi, scructural dan fungsional (M. BAHRI GHAZALI, 1997:73)
Dengan cirri kepemimpinan formal yang sedemikian rupa dapat dilaksanakan dakwah dengan menggunakan setrategi dakwah bil-hal. Wujud dakwah bil-hal bias bersifat berhubungan antara atasan dan bawahan dengan masing-masing menyadari fungsinya, model-model tersebut yaitu:

1.      Perintah Atasan Bawahan
Sifat perintahnya adalah untuk menumbuhkan kepercayaan diri bukan suatu intruksi. Sikap / model dakwah bagi pemimpin yang demikian nampaknya akan lebih berhasil apabila pemimpin mampu menumbuhkan potensi kerja dan tidak mudah putus asa. Dengan demikian perintah akan secara ikhlas dilaksanakan.

2.      Keteladanan (Uswatun Khasanah)
model dakwah keteladanan dilakukan melalui perbuatan seorang pemimpin formal yang sifatnya memberikan contoh teladan kepada bawahan agar terjadi peningkatan amaliah dan perbuatan sikap menuju tindakan yang positif.
Dakwah modal keteladanan memberikan dampak positif bagi pemimpin, dimana pemimpin dijadikan sosok figure yang ideal bagi lingkungan. Dakwah yang demikian lebih mampu menciptakan lingkun ganya mencapai tujuan.

3.      Amar Ma”ruf Nahi Munkar
Seorang pemimpin yang tanggung jawab atau kepemimpinanya, akan senantiasa memperhatikan bawahanya dengan mengutamakan kebaikan (ma’ruf) dari yang tercela (munkar). Tindakan ini dapat dikategorikan sebagai upaya amar ma’ruf nahi munkar.
Dakwah model amar ma’ruf nahi munkar, cenderung melahirkan sosok anggotanya menjadi anggotanya menjadi anggota yang terpuji. Aplikasinya model ini secara langsung seorang pemimpin dalam menyiarkan dakwah berhadapan dengan mad’unya. Pelaksanaan dengan jalamn memerintah ajaran agama untuk dilaksanakan dan melarang anggota untuk berbuat munkar.

C.    Model Dakwah Pinpinan Informal
Pimpinan informal diistilahkan dengan pimpinan yang terlahir dengan sendirinya karena tidak terbentuk atas dasar pengalaman kependidikan kepemimpinan, melainkan berkembang atas dasar kemampuan bawaan. Pemimpin informal terbentuk secara alami karena kemampuan bawaan yang diberikan Allah SWT. Pemimpin yang demikian ini dinamakan pemimpin karismatik. Karisma yang dimiliki adalah pemberian dari Allah sebagai hikmah dan terefleksi dalam segala gerak gerik. Memperhatikan karakteristik kepemimpinan informal seperti yang diutarakan di atas, maka dapat diterapkan strategi dakwah yang tepat adalah dakwah bil-lisan dan dakwah bilhal. Dakwah bil-lisan yang dimaksud sebagai kegiatan dakwah yang dilakukan dirumah ibadah lembaga agama seperti majelis taklim, yasinan, remaja masjid, dll.
sedangkan strategi bilhal merupakan aktifitas dakwah terpadu dengan kegiatan kemasyarakatan. Tujuannya adalah memodifikasi dakwah yang selama ini berkembang, dan juga melakukan perubahan pola kehidupan melalui kegiatan keagamaan juga menampilkan kegiatan kemasyarakat sebagai kegiatan agama. Oleh karena itu model dakwah yang dapat dikembangkan adalah;

1.      Keteladanan
model dakwah merupakan bentuk klasik dari kegiatan dakwah sebab Nabi Muhammad SAW, selalu bertindak sebagai teladan telah mampu melakukan perbuaan sikap dan sekaligus menginternalisasikan nilai kehidupan islam bagi masyarakat.
2.      Nasehat
model dakwah ini relefan dengan dengan kedudukan pemimpin informasi sebagai pokok-pokok agama atau masyarakat. Nasehat seorang pemuka agama lebih cepat diterima oleh masyarakat dan menjadi pedoman dalam bertindak atau berhubungan dengan sesama anggota masyrakat.
3.      Kepeloporan
makna dari kepeloporan terletak pada sikap pemimpin ang menonjol didalam kegiatan kelompoknya. Pemimpin pada dasarnya adalah seorang pelopor dari  suatu aktifitas. Dakwah dengan modal kepeloporan akan lebih mampu dengan jiwa penggerakan mad’unnya.
4.      Tabligh
dakwah mdel tabligh merupakan dakwah yang paling konfensional, karena model tabligh sudah dimulai sejak dahulu dan tetap relefan dengan situasi kondisinya.



BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Dakwah merupakan pilar penting dalam kemajuan agama islam di dunia. Pengembagan kepemimpinan dakwah dalam masyarakat islam itu mempunyai model-model dakwah dalam masyarakat islam, diantaranya yaitu: Model dakwah kepemimpinan formal adalah dimana kepemimpinan itu bekerja melalui adanya unit kerja dalam waktu biro (bagian). Scructual artinya memiliki kepengurusan secara hirarkis dan fungsional, berarti setiap person dari struktur tu berfungsi sebagai nama tugasnya. Dengan demikian pemimpin formal bersifat birokrati, scructural dan fungsional dalam kepemimpinanya. Artinya dakwah dalam dimensi kepemimpinanya yang bersifat birokrasi, scructural dan fungsional. Sedangkan model dakwah kepemimpinan informal, berarti dakwah yang dilakukan didalam dalam arti juga Pimpinan informal diistilahkan dengan pimpinan yang terlahir dengan sendirinya karena tidak terbentuk atas dasar pengalaman kependidikan kepemimpinan, melainkan berkembang atas dasar kemampuan bawaan. Pemimpin informal terbentuk secara alami karena kemampuan bawaan

DAFTAR PUSTAKA

Helman Elhany. Pengembangan Masyarakat Islam. Lampung
Bahri Ghazali. 1997. Dakwah Komunikatif. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada
Din Syamsudin. 2000. Etika Agama dalam Membangun Masyarkat Madani. Jakarta. Gema Insani Pres
Moh. Ali Aziz. 2004. Ilmu Dakwah,Kencana. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada



Tidak ada komentar:

Posting Komentar